Breaking News

Carut Marut Penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Universitas Lampung



Hampir setiap Tahun ajaran baru, Rektorat Universitas Lampung menghadapi aksi keras aktivis mahasiswa sejak diberlakukannya sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada tahun 2013 lalu. Aksi-aksi aktivis mahasiswa Unila baik yang tergabung dalam aliansi maupun dipimpin langsung oleh Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas maupun Universitas dilakukan untuk mengkritisi kebijakan penetapan UKT yang dianggap memberatkan biaya untuk kuliah setiap mahasiswa yang diterima di Unila.


Carut Marut Penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Universitas Lampung
Muhardi Ali

Berbicara masalah UKT, mungkin belum semua masyarakat tahu khususnya masyarakat Lampung mengenai sistem biaya kuliah ini. UKT diberlakukan di Unila pada tahun 2013 lalu berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 tentang Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada Perguruan Tinggi Negeri dilingkungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Uang kuliah tunggal terdiri atas beberapa kelompok yang ditentukan berdasarkan kelompok kemampuan ekonomi masyarakat dengan kata lain UKT ditetapkan berdasarkan penghasilan orang tua mahasiswa.

Adapun kelompok UKT terdapat pada tabel dibawah ini:

Carut Marut Penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Universitas Lampung
Penetapan besarnya UKT ditentukan berdasarkan hasil verifikasi berkas oleh panitia yang memverifikasi berkas tersebut.

Sebenarnya sistem ini baik sekali jika diterapkan dengan benar dan tepat sasaran. Namun sayang penetapan besarnya UKT Unila tidak memuaskan sebagian mahasiswa yang diterima di Universitas Lampung, karena dianggap tidak sesuai dengan penghasilan orang tua mereka.

Salah satu bukti penetapan UKT Unila tidak sesuai dan belum tepat sasaran dilihat dari kasus yang menimpa  Achmad Barkah, siswa yang berasal dari SMAN 1 Simpang Pematang Kabupaten Mesuji. Barkah diterima di Universitas Lampung Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Unila melalui jalur SBMPTN.

Achmad Barkah terancam tidak bisa kuliah. karena tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang nilainya cukup besar, yakni 2,4 juta rupiah. Nilai UKT tersebut besar jika dibandingkan dengan penghasilan orang tuanya yang hanya sebesar Rp 750.000 dan menanggung 3 orang anak.

Atas kasus yang menimpa Barkah tersebut direspon oleh aktivis-aktivis mahasiswa Unila, dan sebagai bentuk protes dari penetapaan UKT tersebut, dilakukan aksi solidaritas penggalangan Koin Untuk Barkah.

Kasus ini adalah potret, bahwa masih carut marut nya penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terjadi di Universitas Lampung.

Ada beberapa tawaran solusi agar penetapan UKT Unila tidak carut marut dan tepat pada sasaran. Karena UKT adalah sebuah sistem maka solusi yang pertama adalah dilakukannya verifikasi berkas secara faktual bagi mahasiswa yang merasa keberatan atas UKT yang telah ditetapkan, artinya dilakukan survei lapangan kepada mahasiswa yang diterima di Universitas Lampung, karena konsekuensi diberlakukannya system UKT maka harus ada survei lapangan dan tidak hanya sebatas banding UKT, sebab kemampuan ekonomi tidak bisa dilihat hanya sebatas pada berkas. Solusi ini dapat dijalankan dengan bekerja sama dengan aktivis mahasiswa, sehingga aktivis mahasiswa pun tidak hanya mengkritik tapi terlibat langsung untuk memberikan solusi.

Solusi yang kedua adalah dibuat kebijakan sistem mencicil atau tempo untuk pembayaran UKT bagi mahasiswa yang masih merasa keberatan atas UKT yang telah ditetapkan setelah diadakannya uji faktual atau banding UKT.

Solusi yang ketiga adalah dicarikan beasiswa (semacam orang tua asuh) untuk mahasiswa yang telah diterima dan belum mampu membayar UKT diluar beasiswa bidik misi karena mengingat kuota bidik misi sangat terbatas dan tidak semua mahasiswa yang belum mampu mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa itu, terlebih beasiswa PPA dan BBM sudah tidak ada sejak tahun lalu.

Mungkin tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan, rasa cinta  terhadap almamater dan rasa kepedulian terhadap dunia pendidikan, karena pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena faktor ekonomi tidak mendukung, dan semoga kedepan Rektorat Universitas Lampung dapat lebih bijak dan tepat sasaran dalam menetapkan Uang Kuliah Tunggal.

Carut Marut Penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Universitas Lampung
Oleh: Muhardi Ali 
Aktivis HMI Cabang Bandar Lampung