Breaking News

Bagaimana Mendefinisikan Keadilan?


Saya sesap kopi yang sedikit lagi menyisakan ampas.  Malam begitu dingin namun teman-teman saya belum juga menunjukan tanda akan pulang.  Kami begitu pasrah bergelayut pada arus pembicaraan tentang bagaimana mendefinisikan keadilan.  Hingga akhirnya angin malam penjadi pengadil yang paling bijak dari perbincangan yang tiada titik temu.  Kami bersepakat bahwa keadilan adalah kata yang bersifat subyektif dan menyesuaikan pijakan suatu keadaan.  Sungguh definisi keadilan akan menjadi ambigu bila tidak dipancangkan pada tolok ukur yang tetap.  Makna adil akan bergeser mengikuti subyek dan ruang, kemudian secara bertahap berkembang dalam satuan waktu.
Bagaimana Mendefinisikan Keadilan?
Rifky Bangsawan

Tolok ukur dan norma yang ada didalam diri kita akan menyediakan pijakan bagi prinsip keadilan.  Perspektif keadilan menjadi bergeser dan tidak tetap ditinjau dari kepekaan sosial dan wawasan hidup ideal yang dibingkai nurani kemanusiaan adil beradab.  Pernah suatu hari saya menghadiri seminar dua orang teman yang bahka tidak menghadiri seminar yang sebelumnya dalam hitungan hari saya lakukan, secara matematis saya tidak wajib untuk menghadiri seminar mereka.

Didalam kepala saya berbisik “mereka bahkan tidak hadir diseminarmu, tentu saja mereka berhak menerima hal yang sama”, itu secara matematis, namun nilai dalam diri saya memutuskan hal yang lain.  Equality doesnt define justice.

Keadilan itu benar bahwa tidak sama rata, keadilan adalah berlaku adil mengenai nilai yang kita amini terhadap semua orang bahkan teman yang menyebalkan sekalipun.  Ternyata adil itu memiliki kenisbiannya sendiri yang duduk berhadapan dengan nurani.  Adil bagi saya belum tentu adil bagi anda dan baginya.  Keadilan atas dasar hati nurani dan keadilan atas nama melindungi hak orang lain tentu menjadi hal berbeda pula.  Contoh kasus adalah warteg ibu Saeni yang dirazia saat bulan ramadan yang lalu, didalam video yang disebarkan oleh pengguna sosial media tampak wajah pilu ibu Saeni saat petugas Satpol PP Kota Serang menyita makanan miliknya.  Secara nurani, tentu saja bukan perbuatan yang lazim berlaku sedemikian tidak beretika terhadap warga yang sedang mencari nafkah.  Menuduh seseorang melanggar peraturan dan memberlakukan sanksi tanpa mempertimbangankan kembali keadaan dilapangan.  Namun bila ditilik dari sudut pandang melindungi hak orang lain, rekan-rekan satpol PP merasa perintah yang disampaikan pimpinan adalah bentuk untuk melindungi hak khalayak untuk berpuasa tanpa gangguan aroma maupun panorama kepala-kepala yang mengunyah makanan pada siang hari.  Petugas satpol PP melaksanakan perintah pimpinan dengan penuh harap abdi pada lembaga akan melindungi karirnya sehingga keluarga dirumah terhindar dari ancaman kelaparan dan mejaga asa anak-anaknya untuk belajar di sekolah.  Lalu, keadilan macam apa yang layak kita hormati sebagai keadilan kolektif?

Adil menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sama berat atau tidak memihak, berpihak pada yang benar, dan tidak sewenang-wenang.  Sedangkan keadilan sendiri adalah sifat (perbuatan, perlakuan, dll) yang adil, singkat cerita keadilan adalah segala perbuatan yang mengejewantahkan definisi adil yang telah disampaikan sebelumnya.  Hemat saya, sama berat atau tidak memihak adalah mengartikan adil melalui pola pandang yang simbolik sehingga lekat pada kulit tertentu.  Namun bila ditinjau dari sikap berpihak pada yang benar dan tidak sewenang-wenang, adil mengambil peran dalam menilai substansi atas sesuatu.

Terminologi adil memiliki beberapa pengertian dan titik tolak, hal ini artinya adil tidak dapat didefinisikan satu sisi atau berlaku universil.  Adil menempatkan diri pada suatu waktu tentang situasi yang lengkap, tidak dapat diambil secara sepotong atau digunakan secara telanjang pada situasi yang lain.  Lantas elokkah saat kita berteriak-teriak meminta keadilan pada pemerintah atau instansi yang bertanggung jawab?  Berteriak atas dasar ambisi ingin diperlakukan sama, tanpa menyadari keadaan yang tengah diteriakan setara dan maksimal nilai manfaatnya atau tidak.  Saya rasa empati kita bisa bekerja dengan baik dalam mengejewantahkan makna keadilan, dengan didorong permakluman demi kemaslahatan. Itu jika empatinya masih cukup fit untuk bekerja, kalau sudah sakit mungkin perlu diobati dalam kamar karma.  Meskipun saya tidak percaya-percaya amat dengan karma, setidaknya anda-anda banyak yang percaya dan menerima.

Keadilan itu seharusnya tidak menimbulkan perpecahan, keadilan adalah jalan tengah menghindari efek negatif, setidaknya itu menurut saya.  Karena apa guna kita teriak-teriak keadilan jika yang kita perjuangkan berjalan tanpa kebijaksanaan untuk saling tenggang rasa.  Saya harus menutup tulisan ini dengan keresahan yang baru, kira-kira apakah yang akan terjadi bila kita gagal paham sehingga keliru mendefinisikan keadilan?  Mari kita renungkan jawaban terbaik yang kita punya.

Bagaimana Mendefinisikan Keadilan?
Oleh: Rifky Bangsawan
Mahasiswa Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung