Breaking News

Selubung Kasus City Spa dan Upaya Penegakan Perda



Beberapa waktu belakangan, media massa sering menulis kasus yang menimpa Cik Raden. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (kasatpol PP) Kota Bandarlampung sedang menjadi persakitan. Dia ditetapkan tersangka atas kasus rekayasa penutupan tempat kebugaran City Spa yang diduga menyelenggarakan prostitusi. Kasus yang katanya rekayasa ini pun sebelumnya sudah menyeret anak buah Cik Raden. 


Selubung Kasus City Spa dan Upaya Penegakan Perda
Bung Anton

Sepertinya, kasus ini akan terus melebar. Bukan hanya Cik Raden yang bakal terseret, atasan sang komandan ini pun sepertinya akan masuk dalam pusaran "serangan balik" City Spa. Entahlah, di sini penulis bukan mau menilai proses hukumnya. Biarlah ini menjadi tugas aparat kepolisian, kejaksaan berhadapan dengan pengacara untuk kemudian diputuskan oleh hakim. 

Penulis menyampaikan beberapa kejanggalan dalam kasus penutupan City Spa. Setidaknya, ada tiga kejanggalan. Pertama, kasus City Spa muncul pada saat prosesi Pilwakot Badarlampung. Kedua, secara kebetulan, pemilik City Spa adalah seseorang yang digadang akan menjadi lawan berat bagi walikota petahana Herman HN. Ketiga, disaat City Spa ditutup dengan tuduhan prostitusi, lokasi prostitusi lain tetap buka dengan hingar bingarnya. 

Menilik tempat lainnya seperti lokalisasi yang kita pun telah paham tempatnya toh tetap ramai, rumah karaoke (sebagai kedok) tumbuh liar di tempat-tempat keramaian umum, Panti Pijat "plus-plus" dan rumah-rumah karaoke di beberapa tempat tetap buka dengan house music dan sajian mirasnya. 

Kita memberikan apresiasi atas keputusan Satpol PP Kota Bandarlampung menutup tempat yang diduga melakukan praktik prostitusi. Kita tidak ingin berdebat apakah benar ada prostitusi di rumah kebugaran. Kita tidak berbicara benar salah menutup rumah kebugaran. Kita tidak berdebat tentang IMB sebuah bangunan. Kita hanya ingin adanya penegakan perda demi ketentraman bersama. Sudah sepatutnya, Satpol PP mampu menjalankan tugas dengan baik dan benar tanpa kepentingan apapun.

Jika memang mau menegakkan perda secara adil, memang sudah selayaknya satpol PP mau mendengarkan keluhan warga dan benar-benar menegakkan aturan. Sudah beberapa kali warga, khususnya di salah satu perumnas menyampaikan keberatan atas keberadaan rumah karaoke di lingkungan kompleks mereka. Beberapa media lokal memuat tentang keluhan warga atas suara bising dari musik house yang diputar sampai larut malam. Belum lagi keberadaan Pemandu Lagu (PL) berpakaian minim di arena karaoke. Patut dicurigai menjurus pada praktek prostitusi. Mungkin, transaksinya di tempat lain. 

Jika ingin menegakkan perda, kenapa Satpol PP tidak menertibkan rumah karaoke di sepanjang salah satu jalan di Bandar Lampung. Di sana, wanita PL berpakaian minim, berparfum menyengat, berjajar dalam ruangan mirip akuarium, merokok, bertutur sapa genit menjadi menu malam yang setiap hari muncul. Bukan lagi rahasia jika ingin mencari teman kencan (prostitusi) bisa mencari ke sana. Kondisi yang kurang lebih sama juga terjadi di beberapa panti pijat di jalan yang bersangkutan. Bahkan, yang berkunjung adalah anak-anak muda usia produktif, calon generasi penerus bangsa. 

Kalau mau menegakkan perda dan bersikap adil maka tertibkan pula prostitusi di lokalisasi yang sudah terkenal namanya itu. Di sana, prostitusi sudah tidak sembunyi-sembunyi. Wanita-wanita berpakaian minim berjajar di depan rumah yang sudah disulap jadi rumah karaoke. Setiap laki-laki yang lewat akan disapa, diajak mampir ke rumah karaoke dimana wanita genit itu mangkal. Prostitusi di sana sudah berjalan sekian tahun, tak tersentuh dan terus berjalan. 

Jika memang mau menegakkan perda, silahkan lakukan razia rutin di hotel-hotel melati yang ada di Bandarlampung. Sudah bukan rahasia lagi, hotel melati jadi tempat favorit bagi pasangan tidak sah untuk memadu kasih. Bahkan, tidak sedikit pula para pasangan pelajar dan mahasiswa yang tertangkap basah. Mereka generasi muda terdidik yang tersesat. Menyalahgunakan fasilitas hotel untuk berbuat tidak senonoh.

Jika ingin menegakkan perda, kenapa tidak merazia salon-salon terselubung yang menjajakan cinta. Bahkan, ada salon yang menjajakan cinta bagi pasangan sesama jenis. Ini adalah target besar yang mesti ditertibkan dan diambil tindakan.

Jadi, tidak perlu lagi menggelar diskusi tentang prostitusi hanya dengan menuduhkannya ke City Spa. Tidak perlu lagi menggiring opini bahwa prostitusi cuma ada di City Spa. Apalagi, menjelang Ramadhan, Satpol PP hendaknya turut bisa menjaga ketertiban umum. Menjaga kekhidmatan Umat Muslim menjalankan ibadah puasa. Tidak perlu lagi berdemo menuntut bebaskan Cik Raden.