Breaking News

Menelisik Wajah Terminal Rajabasa



Mudik menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Berkumpul bersama keluarga besar di rumah saat lebaran adalah dambaan setiap orang. Pada Hari Raya Idul Fitri, saling memaafkan rasanya kurang lengkap tanpa berkumpul bersama orang-orang yang dikasihi. Pulang kampung saat lebaran seperti mejadi kewajiban bagi para perantau.

Menelisik Wajah Terminal Rajabasa

Bagi yang memiliki sarana kendaraan pribadi yang memadai untuk mudik, seperti nya bukan hal sulit untuk mudik. Tapi, bagi mereka yang mudik dengan kendaraan umum, khususnya bus, mau tidak mau harus mampir ke terminal. Tempat yang dianggap rawan aksi kejahatan. Terminal Rajabasa di Bandarlampung dianggap salah satunya.

Medio tahun 2000-an, anggapan terminal angker bagi Rajabasa begitu melekat. Banyak kejadian yang membuat ngeri jika harus masuk terminal Rajabasa. Banyak kejadian kejahatan yang pernah terjadi. Wanita diperkosa saat turun di terminal pada malam hari. Penumpang ditusuk orang tidak dikenal karena enggan dipaksa naik bus yang bukan tujuan nya. Sampai aksi kurang nyaman dengan menarik-narik penumpang yang baru turun dari bus. 

Tetapi, itu dulu. Momen paling diingat adalah saat tahun 2004 dimana para preman di Terminal tersebut diserbu satu truk rombongan orang berambut cepak. Penyerbuan dipicu aksi preman yang melakukan pengeroyokan kepada rekan para rombongan di terminal Rajabasa. Pasca kejadian itu, Rajabasa berbenah. Apalagi, banyak preman yang lebih memilih pergi dari terminal karena menjadi buronan. 

Aksi menarik dan memaksa penumpang untuk naik bus sudah tidak ada. Saat ini, lokasi menurunankan dan menaikkan penumpang sudah diatur sangat rapih. Bus hanya boleh menurunkan penumpang di dalam terminal. Penumpang pun bisa dengan mudah menuju bus yang dituju karena setiap trayek sudah dibuatkan pul masing-masing. 

Seperti bus jurusan Unit II Mesuji, Kotabumi, Liwa, Kota Agung, Kalianda sudah dibuatkan pul masing-masing. Dari jauh pun sudah terlihat dimana lokasi pul yang dituju penumpang karena di sana ditulis secara jelas dan terang. 

Khawatir ada preman atau penodong, jangan khawatir. Terminal Rajabasa adalah salah satu objek vital yang medapatkan pengamanan dari aparat kepolisian. Apalagi menjelang mudik. Dari pengalaman penulis saat menjadi jurnalis yang memantau mudik, ada beberapa anggota kepolisian berpakaian preman dari unit Jatanras yang disiagakan di sana. Mereka disebar dibeberapa titik untuk menjaga keamanan pemudik. Keberadaan anggota kepolisian ini tidak akan disadari oleh siapa pun.

Bagaimana jika harus tiba di Rajabasa pada malam hari dan tidak kebagian bus?. Pos Polisi di Terminal Rajabasa siaga 24 jam. Jika memang terpaksa harus menginap, bisa menginap di dalam pos polisi. Anggota pos polisi biasanya akan ditambah saat arus mudik. Polisi berseragam berpatroli keliling terminal 24 jam. 

Jika pemudik mengalami sakit saat perjalanan misalnya masuk angin, ada posko kesehatan 24 jam yang siaga di dalam terminal. Di sini, ada penanganan pertolongan pertama bagi pemudik yang sakit. Bahkan untuk penanganan wanita melahirkan pun disediakan. 

Mungkin, yang benar-benar harus diwaspadai oleh pemudik di Terminal Rajabasa adalah aksi tukang copet. Maklum saja, aksi kejahatan satu ini bergerak secara senyap dan sangat tidak disadari korbanya. Jadi harus berhati-hati saat membawa barang berharga. 

Selain itu, keselamatan pemudik juga diperhatikan oleh pemegang otoritas terminal dalam hal ini Dinas Perhubungan Kota Badarlampung. Uji KIR dilakukan secara ketat. Mobil yang tidak layak jalan dikandangkan. Mobil yang layak jalan akan diberi stiker layak jalan.

Terminal Rajabasa bukan seperti yang dulu lagi. Terminal Rajabasa angker sudah mejadi kenangan, sudah menjadi dongeng di perjalanan mudik.