Breaking News

Anehnya Anak-anak Jokowi



Sebagai Anak Orang Nomor satu negeri ini, memang aneh yang ditunjukkan anak-anak Jokowi. Tindakannya tidak seperti dan lumrahnya anak-anak pejabat di Indonesia. Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Jokowi malah jualan martabak. Kahiyang Ayu, Ikut daftar CPNS tapi tidak lolos. Kalau si bungsu Kaesang Pangarep, memang tidak terlihat seperti anak pejabat pada umumnya.
 
Anehnya Anak-anak Jokowi
Anton Adi Wijaya

Beberapa hari ini, media kembali digegerkan oleh sikap aneh gadis ABG anak Pejabat negeri ini. Shafa Sabila membuat publik terhenyak. Anak Fadli Zon (Wakil Ketua DPR) ini sedang ikut kursus tari di Amerika Serikat. Beredar surat ke KJRI untuk memfasilitasi anak Fadli Zon. Kenapa fasilitas Negara harus diberikan bukan pada tempatnya?. 

Inilah warisan feodal. Hasil penjajahan Belanda yang melekat kuat di kehidupan sosial Indonesia. Belanda membagi kasta rakyat Indonesia ke dalam beberapa golongan. Anak-anak golongan priyayi, pejabat pemerintah, mendapatkan perlakukan khusus. Minimal, mereka ini lah yang bisa berpakaian layak dan mendapatkan pendidikan yang juga layak. Ada perlakuan istimewa. Tradisi itu berlaku sampai sekarang.

Karpet merah, pengawalan bahkan pelayanan mirip pejabat Negara seperti turut berhak didapatkan anak pejabat. Bila perlu, mereka semua harus kebal hukum. Kita ingat, anak Hatta Rajasa, Rasyid Amrullah Rajasa, yang tetap bisa bebas setelah menabrak dua orang hingga tewas pada 2013 silam. 

Ada lagi, anak pejabat juga berhak mendapatkan jaringan bisnis dan kepentingan karena jabatan bapaknya. Anak Mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarif Hasan contohnya. Riefan Avrian ditangkap karena terlibat korupsi pengadaan videotron di kementrian yang dipimpin bapaknya. Selain dianggap berhak mendapatkan perlakuan khusus, anak pejabat juga dianggap berhak mendapatkan akses khusus. Misalnya, akses bisnis atau jabatan. 

Aneh, kenapa anak-anak Jokowi tidak bertingkah seperti anak-anak pejabat lainnya. Gibran, kenapa tidak main proyek saja. Kenapa tidak memonopoli cengkeh. Toh dia kan anak presiden. Daripada Cuma harus berjualan martabak.

Kenapa tidak jadi Bupati saja seperti yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Minimal, duduk di keanggotaan DPRD atau BUMD. Mengelola perusahaan yang bisnisnya berkaitan dengan jabatan bapaknya.

Ada lagi yang aneh dari Gibran. Kenapa istrinya tidak melahirkan di rumah sakit Singapura atau Tiongkok saja yang lebih mewah dan lengkap.  Kenapa Cuma melahirkan di RS PKU Muhammadiyah Solo, rumah sakit level kabupaten. Bila perlu, proses kelahiran nya di siarkan secara live dan diatur lahirnya dengan hari besar nasional.

Yang aneh lagi memang Kahiyang Ayu. Kenapa dia tidak merengek kepada bapaknya untuk jadi petinggi partai atau jadi anggota DPR RI saja. Toh, bapaknya punya kekuasaan yang sangat luas. Kenapa mau ikut-ikutan berdesakan, ngantri, tes PNS bersamaan dan malah tidak lulus. Di daerah, memo pejabat masih berlaku untuk rekrutmen PNS. Apalagi anaknya pejabat.

Apa yang ditunjukkan oleh anak-anak Jokowi sepertinya merupakan jawaban atas ketidaksetujuan tradisi feodal yang terjadi di Indonesia. Anak-anak pejabat seolah mendapatkan perlakuan yang khusus dan memang harus diperlakukan spesial. Tapi, apa yang ditunjukkan oleh anak-anak Jokowi seolah mematahkan tradisi kuno dan feodal yang sudah lama mentradisi. 

Mereka hidup seperti anak-anak Indonesia pada umumnya. Mandiri dengan bisnis yang dirintis sendiri. Berjuang sendiri meniti karir. Bergaul biasa bersama masyarakat. 

Memang benar dan tidak salah jika seorang anak pejabat menjadi sukses, hidup berkecukupan. Semua itu sah dan boleh saja, asalkan apa yang didapat tidak memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki oleh orang tuanya sebagai pejabat. Tidak memanfaatkan aset negara untuk kepentingan pribadi.

Lihat anak-anak Dahlan Iskan, Azrul Ananda menjadi petinggi Jawa Pos Group. Memang warisan bapaknya. Tapi, Azrul memang menjauhi bersinggungan dengan bapaknya setelah bapaknya jadi pejabat. Bertemu bapaknya di kantor PLN dan Kementrian BUMN pun enggan apalagi mau “cawe-cawe” soal proyek. 

Lihat anaknya Prabowo Subianto. Walau Bapaknya Jenderal, Petinggi Partai, Ragowo Hediprasetyo justru memilih menjadi penata busana di luar negeri. Bahkan, enggan ikut-ikutan bapaknya bermain politik. Sebuah contoh melawan tradisi feodal yang patut ditiru.