Breaking News

Pemilu dan Semangat Kepemimpinan Bangsa

Pemilu dan Semangat Kepemimpinan Bangsa : Apa sebenarnya yang menjadi persoalan bangsa ini sehingga semakin hari semakin tidak menemukan ruhnya dalam menjalankan cita-cita bangsa. Kebangkitan bangsa Indonesia akhir-akhir ini mulai menggelembung dan menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati. Bahwa selama ini hampir dalam kurun waktu sepuluh tahun lebih bangsa Indonesia berkutat pada masalah dan saling menyalahkan. Mencari kambing hitam dan coba menunjukkan diri sebagai pahlawan.

Pemilu dan Semangat Kepemimpinan Bangsa

Komitmen dalam memajukan bangsa lahir dari rahim segelintir orang dan susah untuk dikembangkan menjadi kebangkitan bangsa secara menyeluruh. Pertarungan isu politik, ekonomi dan sosial mulai tumbuh dan menjadi wacana yang tidak sedap, sebab oleh elit wacana tersebut menjadi momentum saling menjatuhkan bukan saling mendukung kearah prestasi yang lebih gemilang dan menggembirakan.

Pengalihan isu politik dapat dipandang sebagai langkah-langkah strategis untuk menyongsong pemilu. Pemilu menggambarkan sebuah dinamika pergolakan politik yang semakin panas. Masing-masing pihak melakukan analisis untuk saling memperebutkan hati masyarakat dengan isu-isu kontemporer. Dan dalam mengambil kebijakan pun terlihat kesan hati-hati dan menyibukkan diri dengan suasana yang tak lazim.

Pembangunan Indonesia setidaknya tidak dimulai dari karakter yang bobrok, kebangkitan bangsa harus dimulai dari setiap individu yang merasa dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Pemilu sebagai proses untuk menentukan kepemimpinan di Negara ini seyogyanya menjadi pilar utama dalam memajukan bangsa. Selektifitas dalam menentukan pilihan terhadap mereka yang benar-benar concern bukan mencari kekuasaan semata. Sehingga bangsa ini mampu bangkit mencapai cita-citanya, dengan dukungan penuh dari masyarakat. Kepercayaan ini yang tidak kita miliki.

Masing-masing pihak tidak saling percaya baik pemimpin maupun rakyat. Jiwa kebangkitan tersebut harus dimulai sekarang juga tanpa menunggu hari esok yang tak mungkin hadir seperti yang diinginkan. Menunggu waktu dan momen yang belum tentu hadir adalah kesia-siaan. Negara kita seperti halnya pada masa kisruh, kocar kacir dan tidak terkendali. Anarkisme pada akhirnya menjadi pilihan karena ketidak puasan dan lebarnya jurang perbedaan.

Kekuatan Moral
Melalui momentum pemilu hadir dan menghampiri serta ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar indonesia mampu menatap masa depannya yang lebih cerah dan sejahtera. Saat ini kita kekurangan pemimpin yang mampu memotivasi rakyatnya. Yang mampu memberikan semangat perjuangan. Ruh tersebut sepertinya hilang dan mulai memudar dan ditinggalkan. Padahal rakyat disamping perjuangan kesejahteraan yang baik juga membutuhkan motivasi yang sempurna.

Pemimpin yang dimaksudkan disini adalah pemimpin dari semua lini, mulai dari presiden hingga kepala rumah tangga maupun pemimpin untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain. Masing-masing pemimpin memotivasi dan membakar semangat, mendorong dan memberikan energi bagi langkah-langkah yang positif. Bahwa langkah positif yang akan dilakukan akan memberikan gairah dan hasil yang positif pula. Optimalisasi seluruh gerakan dengan semangat yang positif bagi setiap warga mudah-mudahan memberikan angin segar bagi perubahan bangsa ini.

Setelah semangat yang membakar tersebut, ada penanaman nilai lain disamping etika-etika yang telah dipelajari baik di sekolah, rumah dan tempat ibadah. Yakni keikhlasan dan kesabaran. Penanaman nilai ini yang kurang begitu mengena kehati setiap warga negera. Sebab baik seseorang itu adalah pemimpin maupun bawahan dia membutuhkan keikhlasan dan kesabaran. Ikhlas dalam berbuat, ikhlas menjadi pemimpin dan ikhlas menjadi bawahan. Ikhlas dalam menjalankan tugas dan ikhlas-ikhlas lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Dengan membangun keikhlasan dalam setiap diri manusia maka kesenjangan bukanlah persoalan ketika setiap hati berpikir untuk ikhlas dalam menjalani hidup ini.

Ikhas dan sabar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena kesabaran merupakan ujian bagi setiap individu sebagai dirinya yang menamakan diri warga negara. Sabar dan coba bertahan ketika seseorang ingin menyuap, mengajak untuk korupsi, mengajak untuk curang. Sabar ketika ditinggalkan karena tidak ingin bergabung dalam kejahatan yang telah berserikat dan berkumpul menjadi penjahat kerah putih. Karakter seperti inilah sepertinya yang tidak dimiliki oleh para pemimpin kita.

Kepemimpinan nasional bukan saja kepemimpinan yang sentralistis, yang terpusat hanya di pusat-pusat ibu kota. Namun kepemimpinan nasional adalah kepemimpinan menyeluruh dari segenap bangsa Indonesia. Pada momentum pemilu, pilpres, pilkada dan suksesi kepemimpinan yang lainnya seluruh warga negara telah terframe dan memiliki pilihan yang baik. Sukses bukan milik segelintir orang tapi miliki semua, milik bangsa indonesia.

Mungkin disini negara kita telah memiliki banyak pemimpin yang memiliki konsep yang baik namun lemah pada tataran aksi. Untuk itu sebagai warga negara yang baik kita wajib memberikan apresiasi yang positif bagi mereka yang telah melakukan aksi-aksi. Bukan mencemooh dan berpikir negatif terhadap bangsa lainnya. Semangat kepemimpinan bangsa harus tertanam pada setiap individu warga negara indonesia, dengan semangat tersebut mudah-mudahan rasa memiliki itu ada dan pada akhirnya bergerak bersama untuk memajukan bangsa.

Pemilu adalah momentum untuk membangun semangat tersebut, momentum untuk membangun pilar kepemimpinan bangsa indonesia. Semoga.

Oleh: Guntur Subing
Koleksi Pribadi
Bandar Lampung, 26 Januari 2009