Breaking News

Kemerdekaan dan Bopengnya Nilai Kemanusiaan

Kemerdekaan dan Bopengnya Nilai Kemanusiaan : Zaman ini zaman edan. Edan karena nilai-nilai kemanusiaan dinilai sebagai sebuah nilai yang sama dengan hewan. Kemanusiaan dinilai sebagai sebuah kepalsuan dan permainan. Membicarakan kemanusiaan sama saja dengan membicarakan kebohongan, kebobrokan, konspirasi ketidakadilan dan kesempurnaan dalam menyembunyikan rahasia kebusukan.
Kemerdekaan dan Bopengnya Nilai Kemanusiaan

Zaman edan ini disebut sebagai zaman milenium, yang dihuni oleh manusia-manusia modern, yang berpegang teguh pada Piagam yang diagungkan yakni Piagam PBB yang sakral dan menyempurnakan diri dengan sebutan membela hak-hak kemanusiaan. Yang menjunjung tinggi hak untuk mengemukakan pendapat, memiliki hak untuk menjadi manusia merdeka dan memiliki hak-hak privasi yang tidak boleh diganggu gugat oleh yang lain.

Di Negara ini, yang mengagungkan demokrasi sebagai sesuatu yang sakral dan dijunjung tinggi, terbesit nilai-nilai dan cita-cita untuk menjadi bangsa yang merdeka. Bangsa yang tidak menjadi budak dari bangsa lain. Bangsa yang memiliki kemandirian untuk menapaki setiap langkahnya. Tidak gentar ketika berhadapan dengan Adikuasa yang sewenang-wenang. Menghancurkan segala belenggu yang menghalangi tegaknya demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Namun, kemerdekaan itu belum juga muncul. Keadilan itu hanya menjadi angan-angan dan dongeng. Yang diperuntukkan mereka yang mengenyam pendidikan dasar, sebagai bekal mereka besok ketika telah menjadi dewasa dan ketika mereka berhadapan dengan Haguza-haguza –meminjam istilah Fatima Mernissi-- yang menakut-nakuti mereka yang nakal.

Di negeri ini, kemerdekaan itu masih menjadi mimpi. Kemerdekaan itu masih menjadi bunga tidur ditengah pengorbanan para pejuang yang telah mengorbankan harta, nyawa dan segala yang dimilikinya. Mimpi itu belum juga kunjung selesai sebagai sebuah mimpi, ia justru bersambung menjadi episode-episode yang menyedihkan dan menambah deretan panjang penderitaan dan pemberitaan.

Kisah kesedihan, kemiskinan dan keputusasaan menjadi pemberitaan yang menarik. Menarik untuk digunjingkan, dibicarakan, dicaci maki dan disumpah serapah. Bad News Is Good News, barang siapa memfitnah, ghibah, maka ia akan didengarkan, diamini, dan disanjungi. Inilah negeri mimpi, yang penuh dengan ironi. Barang siapa yang sinis seperti tulisan ini maka ia bagian dari negeri mimpi.

Mimpi untuk memeperoleh kemerdekaan sejati. Kemerdekaan yang mampu untuk diaktualisasikan menjadi bagian dari diri setiap jengkal tanah air, setiap tetes darah dari tumpah darah dan berbangsa yang berdaulat. Kemerdekaan milik semua, bukan kemerdekaan milik seremoni sehari ditengah lapang sebagai upacara tahunan belaka.

Inikah cita-cita yang telah dikumandangkan oleh Mahapatih Gajah Mada? Inikah cita-cita yang ingin mempersatukan Nusantara dalam “Sumpah Palapa” atau “Sumpah Nusantara”. Ya, cita-cita tersebut bukanlah cita-cita pengecut, cita-cita tersebut adalah cita-cita sejati yang telah tertanam didalam diri seorang pejuang. Seseorang yang telah memberikan pelajaran untuk zaman edan seperti ini. Zaman yang kehilangan panji-panji keadilannya, kehilangan jiwa kemerdekaan, dan hidup di alam penindasan.

Penindasan telah menjadi trend ketika reformasi didengungkan sebagai langkah untuk menapaki kehidupan Indonesia baru. Negeri yang dihadapkan pada realitas pada mimpi. Realitas ketika perebutan kekuasaan menjadi yang lazim, pertarungan antar keluarga bangsawan demi mendapatkan kursi-kursi tampuk kekuasaan. Masing-masing ingin untuk “Men-Tunggul Ametung-kan” yang lainnya meminjam istilah Cak Nun.

Atau negeri ini telah terjangkit wabah H0m0 Sovieticus, dimuka berbicara manis tetapi dihati dan dibelakang berbicara lain. Bicara kebenaran tapi bohong. Bicara kebohongan tetap juga bohong. Pada akhirnya Negara ini kehilangan identitasnya menjadi bangsa yang merdeka.

Banyak kisah telah memberikan pelajaran bahwa uang menjadi panglima dalam kehidupan kebangsaan di negeri ini. Uang memiliki kekuasaan yang mutlak dan susah untuk diruntuhkan dengan kebenaran. Uang menjadikan manusia gila, gila segala-galanya. Uang memiliki daya tarik yang tak kunjung habis. Begitu dahsyatnya angka-angka nol yang bertebaran didada para koruptor sehingga mereka rela untuk tidur di dalam penjara-penjara. Rela untuk diekspose, dan dijadikan Headline berita media massa.

Uang telah memberikan ruang bagi mereka untuk menggorok leher kawan sendiri, membunuh para orang tua sendiri. Merebut sesuatu yang bukan hak nya dan melakukan penipuan-penipuan secara massal. Uang telah membuat manusia-manusia bertindak kratif dan inovatif walau keluar dari rel yang sebenarnya.

Karena selain itu uang juga yang memungkinkan Negara ini dibangun, buku-buku di cetak, kitab-kitab suci bertebaran, rumah-rumah ibadah dibangun dan yang pasti itu semua tidak sebanding dengan uang-uang yang bergentayangan dikantong-kantong pribadi demi memperoleh kemerdekaan sendiri. Tidak peduli milik siapa tapi yang penting masuk dalam kantongnya. Dan dinikmati dengan penuh tanpa dosa.

Itulah seperangkat kisah bopengnya nilai-nilai kemanusiaan dinegeri ini, yang telah menjadi akut. Menjadi wabah yang menggejala, ia ibarat epidemi yang menyebar tanpa henti. Susah untuk dibendung dan menjadi fenomena biasa. Karena bicara seperti ini seperti bicara sok suci yang tidak perlu didengarkan dan dipertimbangkan, ia hanya orang terpinggir yang lari dan mengadu dengan mencaci maki. Mencaci maki apa yang dilihat dan didengar. Ia orang asing yang tidak perlu diperhatikan dan tidak berbobot, hanya orang kecil yang manja dan butuh perhatian mereka.

Setelah sekian lama merdeka, bangsa ini mulai bangkit kembali ditengah kehidupan yang telah digambarkan diatas. Hampir disetiap sektor kehidupan kebangsaan Indonesia tidak ditemukan satu pun aroma kemerdekaan itu yang patut dipetik kecuali harapan. Sungguh beruntung karena Negara ini masih memiliki harapan untuk bangkit dan memperbaiki diri. Setiap individu yang ada didalamnya menyadari semua penyimpangan-penyimpangan itu. Namun, upaya untuk memperbaikinya seolah bukan menjadi haknya.

Upaya untuk memperbaiki atau bersuara demi negeri yang ingin merdeka ini dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan berlebih. Segala tindakan yang dilakukan lebih memfokuskan pada keputusan yang menghasilkan untung atau rugi bagi kroni. Bagi masa depan kelompok yang telah membentuk dan membatu menjadi kekuatan yang sulit untuk diruntuhkan oleh siapapun.

Negeri ini bopeng karena ketidak beranian kita untuk menyuarakan isi hati yang suci. Takut tidak ikut yang ramai, atau takut terjerumus arus dan tidak berani melawan arus. Untuk itu, momentum kemerdekaan ini adalah momentum untuk menanam pondasi-pondasi kekuatan untuk membangun pilar kekuatan. Untuk membentuk Negara yang benar-benar merdeka dengan melakukan refleksi jati diri disetiap individu masyarakatnya. Merefleksi dirinya menjadi diri yang bersih dan menapaki masa depan bangsa yang lebih cerah dan berwibawa. Semoga.