Breaking News

“Jangan Berak di Piring Tempat Kita Makan”

Jangan Berak di Piring Tempat Kita Makan 
Itulah kalimat yang sering dilontarkan oleh Bapak Rudi Taslim (Branch Manager) kepada kami para staf sewaktu di PT. Adira Multi Finance Lampung II (Mobil). Kalimat itu hampir terlontar setiap hari, sehabis kami do’a pagi kemudian dilanjutkan dengan briefing pagi.

“Jangan Berak di Piring Tempat Kita Makan”
Pembawaannya hampir sama seperti Ahok, kalau bicara meledak-ledak dan tak pandang bulu. Apalagi kalau ada salah maka siap-siap akan kena maki-maki dan dibahas terus menerus pada setiap briefing pagi keesokan harinya. Tetapi bila berprestasi maka kita akan menjadi referensi untuk teman-teman lainnya.

Kembali kepada kalimat pertama, jika disimak lebih dalam maka pernyataan tersebut memang benar. Pada kehidupan kita sehari-hari kita bekerja dan menjadi karyawan pada suatu perusahaan, jadi pegawai negeri atau berwirausaha untuk mencari penghidupan. Demi memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia, kita butuh sarana untuk mencari rezeki.

Tetapi, pada prakteknya banyak sekali celah-celah yang bisa diutak atik untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan mengabaikan nama baik perusahaan dan nama baik pribadi kita sendiri. Keuntungan pribadi yang kita ambil ternyata memberikan dampak yang besar untuk masa berikutnya, karena bukan hanya merusak atau merugikan pihak lain, tetapi juga merugikan diri sendiri. Efeknya tidak secara langsung, tetapi lambat laun akan tercium juga intirik-intrik yang kita buat.

Mengambil keuntungan secara pribadi itulah yang diistilahkan oleh beliau dengan kalimat “Jangan Berak di Piring Tempat Kita Makan”. Karena perusahaan, kantor atau usaha yang kita jalankan adalah “piring” atau istilah lainnya adalah “priuk”, tempat kita mengadu nasib. Kalau kita kotori dengan istilah buang air besar pada wadah tersebut, lalu apakah tempat tersebut masih layak untuk kita makan?

Tentu, walaupun itu kotoran kita sendiri, kita pun akan jijik dan tak mau menyentuhnya. Baunya pun akan menyebar dan menjadi sesuatu yang tak layak untuk disentuh. Kita sendiri yang rugi dan dampaknya juga bukan pada diri kita sendiri tetapi juga pada orang lain, pada anak, istri-suami, orang tua dan orang-orang yang kita cintai.

Atau dengan pernyataan lainnya ia akan berteriak “rampoook”. “Merampok” itu juga diasosiasian beliau dengan mengeruk keuntungan pribadi pada perusahaan sendiri atau dari klien kita, istilah ini relevan juga dengan tindakan “korupsi”. Korupsi adalah salah satu bentuk tindakan yang diistilahkan dengan buang air di piring tersebut. Karena banyak orang-orang dan lebih khususnya para pejabat yang merampok dan memberaki tempat makan mereka dengan korupsi. Misalnya oknum-oknum Anggota DPR/DPRD, pejabat kementerian, pejabat pemda, Bupati, Gubernur, Menteri dan institusi lainnya yang memberaki tempat mereka makan dan berujung menjadi pesakitan.

Itu adalah istilah-istilah yang sebenarnya untuk memotivasi para karyawannya untuk tidak melakukan fraud. Dan tindakan menjadi pegawai yang teladan adalah idaman setiap pimpinan, karena dengan melakukan fraud yang dirugikan bukan hanya tempat kita bekerja tetapi juga diri kita sendiri.

Selamat Beraktifitas dan Semoga Menjadi Yang Terbaik.

3 comments:

  1. hehehehehe. terinspirasi dari brefing paginya pak rudi ya bang. kata2 yang selalu terngiang ngiang.

    ReplyDelete
  2. haha.. ya gitulah va.. maknanya dalem kalau dihayati..

    ReplyDelete
  3. hmm.. sangat mendalam dan menginspirasi..

    ReplyDelete