Breaking News

Lembah Kematian

Berita tentang kematian datang dan silih berganti. Di pojok kamar ini, samar-samar ku dengar reporter TV serius menyampaikan berita tentang kematian. Kabarnya sang wanita mati dibunuh. Dibunuh ditempat umum. Ia meregang nyawa karena kopi. Tidak, kopinya telah bercampur dengan racun. Racun sianida telah ia tenggak. Siapa pelakunya? Masih teka-teki.
Lembah Kematian

Fenomena pembunuhan di negeri ini tak pernah berhenti. Kasus yang lama belum usai, beritanya sudah tak diminati lagi. Datanglah berita baru, rating pembunuhan pun naik lagi. Dengan jalan cerita dan teka teki yang berbeda. Ini mirip sinetron, bukan, ini seperti serial Detective Conan, bukan, ini reality show. Bukan, lalu?

Beritanya setengah-setengah. Berseri pula. Reporter dan polisi belum menyimpulkan. Tapi ada celah. Siapa yang menduga, sama-sama bertanya siapakah yang akan dijadikan tersangka?

Dengan raut muka kesal kau berteriak “tersangkanya adalah reporter dan polisi”. Karena mereka memberikan informasi setengah-setengah. Sehingga kau menjadi korban. Korban pemberitaan yang membuatmu penasaran, sehingga tak sedikitpun berita kau lewati baik dari koran, media online, media sosial dan televisi. Melalui radio mungkin, ketika kau tak sempat untuk mencari dan mencari informasi dari internet.

Bukan salah reporter dan polisi, tetapi kau yang salah karena terlalu ingin tahu. Ingin tahu tentang kematian.

Nyawa dan kematian di negeri ini begitu murah. Nyawa begitu mudah direnggut dari raganya, dengan paksa. Dendam dan nafsu menjadi pemicu. Begitu mudah orang membunuh, dari kerabat dekat sampai orang terjauh. Bukankah kematian itu kepastian yang tak bisa di tolak. Ia akan mengejarmu sampai kepada lembah sekalipun, dimana kematian menjadi tontonan dan pemberitaan dengan “tanda tanya”. Pembunuh itu pun akan mati, ketika waktunya telah tiba. Sabarlah.

Buku Psikologi Kematiannya Komarudin Hidayat, memberikan catatan ispirasi pada Ajie (Blogkaji.com) yang menyatakan bahwa kematian adalah keniscayaan yang tidak terelakkan. Ia merupakan drama penuh misteri dan seketika yang dapat mengubah jalan hidup seseorang. Karena begitu misterius dan menakutkannya kematian, tidak sedikit umat manusia perlu menambah masa hidupnya, seperti yang terangkum dalam pernyataan Chairil Anwar itu.

Membahas kematian bisa menimbulkan sebuah “pemberontakan” yang menyimpan kepedihan pada jiwa manusia, yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan musnahlah semua yang dicintainya dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran itu memunculkan penolakan bahwa kita tidak ingin (cepat) mati.


Salam..!!!