Breaking News

Adinda

Adinda, goresan tangan sudah jarang dilihat. Tapi tinta tak kan pernah habis untuk hadir dihadapmu. Ia masuk kedalam mesin dan melukiskan kata-kata. Kata-kata itu menari dan membius bumi. Bumi pun mabuk kepayang dan berputar tidak pada porosnya.

Adinda, acuhmu merupakan petaka di bukit yang terjal. Merusak citra sang primadona. Kau adalah primadona ditengah kemiskinan rasa. Begitulah, kau hadir secara tiba-tiba. Menghilangpun secara tiba-tiba. Kemunculanmu merupakan penantian yang panjang. Meresap dan merasuki kalbu sang pencinta.

Adinda, kehadiranmu adalah kesia-sian. Percuma. Tanpa bayanganku dihadapanmu, kau tidak berarti apa-apa. Kau bukan dia, apalagi mereka. Kau utuh apa adanya.

Bandar lampung, 6 maret 2006